EN    ID


Baca Ceritanya






Rafi

“Saya sering melihat orang lain dengan orang tua mereka atau orang-orang yang dapat mendengarkan keluh kesah mereka.

Sementara, di sini saya sendirian; Saya tidak bisa menceritakan apa pun kepada siapa pun.”


Rafi (lahir 1999)


Rafi tumbuh besar di daerah pegunungan dan lembah Turkman, sebuah desa kecil di Afganistan, di mana ia membantu orangtuanya mengurus ladang tembakau mereka. Ketika konflik pecah, orangtuanya memutuskan bahwa Rafi harus meninggalkan negaranya untuk keselamatannya. Di usia 15 tahun, Rafi melarikan diri sendirian dengan menyamar sebagai pria 18 tahun, melewati hutan di Malaysia dengan bantuan penyelundup manusia hingga ia tiba di Indonesia.

Di waktu penulisan ini, Rafi masih tinggal sebagai seorang pencari suaka di Jawa Barat, Indonesia.



Muhaddisa

Muhaddisa (lahir 2005)


Muhaddisa berbicara dengan logat Bahasa Inggris yang sempurna sembari bercerita mengenai bagaimana ia berusaha memuat sebanyak mungkin buku bacaan di dalam tasnya sebelum meninggalkan Iran. Tinggal di negara di mana orang keturunan Afgan tidak memiliki masa depan, Muhaddisa melarikan diri dari Iran bersama keluarganya, enggan untuk kembali ke Afganistan di mana suku etnisnya diburu oleh teroris. Muhaddisa berhasil melanjutkan pendidikannya di Indonesia di pusat pendidikan yang dibantu didirikan oleh abangnya.

Di waktu penulisan ini, Muhaddisa dan keluarganya telah diterima untuk pindah ke Kanada, dan masih menunggu tanggal keberangkatannya.


“Orang-orang di sini berbicara dengan bahasa yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Saya terbiasa mendengar bahasa Farsi dan Hazara.

Orang-orang, suasana kota, juga lingkungan di sini terlihat berbeda.”






Jawid

“Tidak peduli negara mana yang saya tinggali, yang paling penting bagi saya adalah pendidikan. Pendidikan dapat memberitahu kita apa yang benar dan apa yang salah.”


Jawid (lahir 2003)


Saat ia melihat pesawat melintas di langit rumahnya untuk pertama kalinya, Jawid memutuskan untuk menjadi seorang pilot. Ia bertumbuh besar sambil mempelajari semua yang ia bisa untuk menjadi pilot penerbangan komersial suatu hari. Seiring dengan meningkatnya tindak kekerasan di Pakistan dan keluarga Jawid terpaksa meninggalkan negara asalnya, harapan dan cita-citanya semakin jauh dari kenyataan. Jawid tiba di Indonesia di usia 12 tahun bersama ibu, abang dan adik perempuannya. Menemukan dirinya di negara yang amat berbeda dari negara asalnya, Jawid harus memulai kembali dari awal.

Di waktu penulisan ini, Jawid masih belajar di Refugee Learning Center di Jawa Barat, Indonesia, mempelajari semua yang ia bisa untuk menjadi seorang pilot suatu hari, sembari bermain sebagai kiper nomor satu di tim futsal pusat pendidikan tersebut.




Tonton di Sini 

Bantu Mereka
FAQs
Back to Top 

Nowhere to Go merupakan Film Pendek karya NYRA Studio
Bekerja sama dengan Refugee Learning Center di Jawa Barat, Indonesia

Kontak Kami 


EN    ID