EN   ID


FAQs








Apakah pemerintah Indonesia menerima pengungsi di wilayahnya?


Indonesia tidak menandatangani Konvensi mengenai Status Pengungsi tahun 1951 dan Protokolnya  tahun 1967. Namun pemerintah Indonesia berpegang pada asas larangan suatu negara menolak atau mengusir pengungsi kembali ke negara asalnya dimana mereka rentan terhadap bahaya (asas non-refoulement).

Berdasarkan Peraturan Presiden No. 125 Tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi, para pencari suaka yang berada di wilayah Indonesia akan didata oleh pihak Imigrasi Indonesia yang bekerja sama dengan Badan PBB untuk urusan pengungsi (UNHCR), yang mendapat mandat untuk menentukan status para pengungsi. Pengungsi yang telah diakui statusnya, diizinkan tinggal di Indonesia sampai mereka direlokasi ke negara lain atau memutuskan kembali ke negara asal mereka secara sukarela. Indonesia tidak menawarkan opsi bagi para pengungsi menjadi warga negara.



Dari mana para pengungsi di Indonesia berasal?


Mayoritas pengungsi di Indonesia datang dari Afganistan, dari kelompok etnis Hazara. Mereka memiliki sejarah panjang menghadapi diskriminasi sistematis, menjadi target kekerasan dan persekusi di Afganistan. Selama beberapa dekade terakhir, peperangan di Afganistan mendorong banyak warga etnis Hazara pindah ke lokasi ekstrem di perbatasan antara Iran dan Pakistan. Sedangkan, sisanya mencari suaka di negara lain.


Kelompok pengungsi terbesar kedua di Indonesia berasal dari Myanmar, dari etnis Rohingya. Mereka menjadi korban kekuasaan kolonial di masa lampau yang menetapkan perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar. Warga dari etnis Rohingnya yang terbiasa hidup nomaden tak punya tempat tinggal yang jelas. Mereka tidak memiliki kewarganegaraan. Dalam beberapa tahun terakhir, warga Rohingya didesak keluar dari wilayah mereka di Myanmar dan terpaksa mencari suaka di negara terdekat seperti Malaysia, Thailand, dan sebagian kelompok kecil tiba di Indonesia.



Apa alasan para pengungsi meninggalkan negara asal mereka?


Berdasarkan Konvensi  mengenai Status Pengungsi tahun 1951 dan Protokolnya tahun 1967, pengungsi adalah mereka yang memiliki rasa takut yang beralasan terhadap ancaman persekusi karena faktor ras, agama, status kewarganegaraan, status sebagai anggota kelompok sosial atau memiliki pandangan politik tertentu, yang berada di luar negara dimana ia menjadi warga negara, atau tidak mampu atau merasa takut sehingga tidak bersedia menerima bantuan dari negara asalnya. Pengungsi juga termasuk mereka yang tidak memiliki kewarganegaraan dan berada di luar negara tempat ia bermukim akibat kondisi tertentu, atau tidak mampu atau merasa takut kembali ke negara asalnya.

Secara umum, para pengungsi terpaksa meninggalkan negara asal mereka karena rasa takut yang beralasan terhadap ancaman persekusi.



Apa artinya  jika seseorang tidak memiliki status kewarnaganegaraan?


Mayoritas masyarakat dunia terlahir dengan status kewarganegaraan yang melekat pada diri mereka. Artinya, mereka memiliki hak bermukim dalam suatu wilayah, hak perlindungan dari pemerintah, hak memperoleh paspor dan surat identifikasi serta akses untuk memperoleh berbagai layanan seperti kesehatan, pekerjaan, pendidikan, dan keamanan sosial.


UNHCR memperkirakan setidaknya 10 juta orang di dunia tidak memiliki kewarganegaraan. Mereka ini disebut sebagai orang yang tak bernegara. Sebuah laporan berjudul The World’s Stateless Report menyebutkan jumlah orang yang tak bernegara jauh lebih besar, yaitu lebih dari 15 juta jiwa.

Seseorang berpotensi kehilangan warga negara akibat faktor penataan ulang batas wilayah, dekolonisasi, perbedaan hukum kewarnageraan antar negara, anak yang lahir dari orang tua yang berbeda kewarganegaraan, terbatasnya akses memperoleh akta kelahiran, dan diskriminasi terhadap kelompok etnis tertentu. Mereka yang tak bernegara banyak ditemukan di beberapa wilayah di Nepal, Myanmar, Thailand, Kuwait, Uni Emirat Arab, Suriah, Pantai Gading, Zimbabwe, Republik Dominikia, Negara Balkan, dan negara pecahan Uni Soviet.



Bagaimana para pengungsi tiba di Indonesia?


Berdasarkan negara asal mereka, para pencari suaka yang tiba di Asia Tenggara memperoleh perlakuan  yang berbeda. Sampai beberapa tahun terakhir, para pencari suaka dari Iran yang memperoleh visa turis saat tiba di Indonesia sehingga para pencari suaka bisa langsung menuju Indonesia dari negaranya. Peraturan ini kini telah diubah dan jumlah pencari suaka Iran yang langsung menuju Indonesia telah berkurang.

Mayoritas masyarakat meninggalkan negara asal mereka dan melewati berbagai negara untuk menuju Asia Tenggara. Beberapa rute yang dilalui, melewati Pakistan, India, untuk menuju Thailand, Malaysia, atau Indonesia. Para pengungsi bisa masuk ke dalam suatu negara melalui jalur resmi ataupun penyelundupan lewat jalur darat. Hal ini bergantung pada kebijakan visa yang diterapkan suatu negara terhadap tiap individu.

Kebanyakan pengungsi tiba di Malaysia dan mencari jasa penyelundup manusia yang membantu mereka masuk ke Indonesia dengan kapal menuju Sumatra dan pulau di sekitarnya. Setibanya di Indonesia, banyak dari pencari suaka ini berangkat ke Jakarta untuk mendaftarkan diri ke UNHCR.



Bagaimana cara para pengungsi membiayai hidup mereka di Indonesia?


Pengungsi merupakan sejumlah kelompok masyarakat dari berbagai negara yang datang dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda. Mayoritas pengungsi di Indonesia mendapat akomodasi dan bantuan finansial dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM). Bantuan ini untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka hingga mereka direlokasi untuk menetap di sebuah negara.


Sedangkan, kelompok pengungsi lain hidup mandiri di Indonesia. Mereka bergantung pada dana seadanya yang dimiliki atau bergantung dari dana yang dikirim oleh keluarga dan teman mereka di negara lain. Namun karena tenggang waktu relokasi  yang tak menentu, kelompok pengungsi ini kesulitan untuk terus bertahan hidup. Sebabnya, para pengungsi di Indonesia dilarang untuk bekerja. Sedangkan, IOM berhenti memberikan bantuan bagi pengungsi baru sejak Maret 2018. Kondisi ini menyebabkan para pengungsi makin kesulitan memenuhi kebutuhan hidup mereka.



Apakah para pengungsi diizinkan bekerja di Indonesia?


Karena terbatasnya hak memperoleh pekerjaan di sebagian besar negara Asia Tenggara, para pengungsi tidak mendapat kesempatan bekerja untuk menopang hidup mereka.  Sangat sedikit pengungsi dan pencari suaka yang menjadi pekerja gelap karena hal ini melanggar peraturan UNHCR yang berakibat pada deportasi.

Para pengungsi menggantungkan hidup mereka dari sisa tabungan pribadi atau pinjaman dari kerabat di luar negeri yang dikirim melalui jasa agensi.  Sebagian pengungsi yang tidak memiliki tabungan atau sokongan finansial dari kerabat mendapat bantuan finansial terbatas dari beberapa badan amal. Sedangkan, sisanya hidup berkekurangan dengan makan seadanya dan tinggal dalam tempat yang sama serta saling berbagi akses terbatas yang dimiliki.



Berapa waktu yang dibutuhkan untuk merelokasi para pengungsi?


Di masa lampau, UNHCR membutuhkan sekitar 3-4 tahun untuk mengurus proses relokasi pengungsi di Indonesia. Namun kesempatan relokasi ini semakin berkurang kendati semakin banyak masyarakat yang terlantar di seluruh dunia. Pada awal tahun 2018, UNHCR mengumumkan bahwa para pengungsi harus tinggal di Indonesia dalam jangka waktu yang belum diketahui akibat kesempatan relokasi yang terbatas. Banyak dari para pengungsi ini telah tinggal di Indonesia selama lebih dari lima tahun tanpa kepastian akan direlokasi ke suatu negara.





Berapa jumlah pengungsi yang menetap di Indonesia sekarang?


Diperkirakan sekitar 14 ribu pengungsi dan pencari suaka yang terdaftar di bawah UNHCR, menetap di Indonesia. Jumlah ini lebih sedikit dibanding jumlah pengungsi di Malaysia yang mencapai 240 ribu jiwa dan Thailand dengan 590 ribu pengungsi dan pencari suaka. Total diperkirakan sekitar 2,3 juta pengungsi dan pencari suaka tersebar di berbagai negara Asia Tenggara.

Kendati jumlah pengungsi di Indonesia relatif kecil, posisi Indonesia yang strategis menjadikannya tempat transit terakhir bagi para pengungsi yang akan menuju Australia dan Selandia Baru. Namun karena kesempatan untuk relokasi yang makin menipis dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk kembali ke negara asalnya, para pengungsi ini menetap di Indonesia tanpa kepastian.



Apa pandangan para pengungsi terhadap Indonesia dan masyarakatnya?


Tidak ada jawaban yang mutlak untuk pertanyaan ini. Karena para pengungsi memiliki latar belakang yang beragam, sama halnya dengan masyarakat Indonesia. Pengalaman antar pengungsi juga berbeda, tergantung lokasi kota tempat mereka tinggal, latar belakang ekonomi, dan pendidikan.  

Sebagian pengungsi di Indonesia berafiliasi dengan organisasi komunal seperti Pusat Pendidikan Pengungsi (RLC) di area tempat mereka bermukim, yang terbuka bagi komunitas pengungsi. Pandangan para pengungsi terhadap Indonesia hanya bisa dinilai lewat interaksi personal dengan tiap individu pengungsi baik di dalam maupun di luar komunitas mereka.





Tonton di Sini 

Baca Ceritanya
Bantu Mereka
Back to Top 

Nowhere to Go merupakan Film Pendek karya NYRA Studio
Bekerja sama dengan Refugee Learning Center di Jawa Barat, Indonesia

Kontak Kami 


EN    ID